Kamis, 10 Juni 2010

Perkenalkan, namaku NUNUT PARASIAN SIREGAR. Nama panggilan ku Nunut haha..
Aku terlahir di keluarga yang bisa dibilang cukup enggak, dibilang susah lah. Tapi aku tetap bangga dan bahagia bersama keluarga ku. Aku anak pertama dari 5 bersaudara, aku punya 3 adek perempuan, dan satu adik laki-laki. Waktu aku kecil aku dipanggil KORNOT. Haha entah apa artinya panggilan itu pun melekat dikeluargaku. Kata keluarga ku sewaktu aku kecil dulu aku itu sanagt menggemaskan. Hahha.. muji diri, kalo dibayangkan KAKA aja lewat, tapi entah kenapa sekarang terjadi perubahan yang sangat drastis sama rupaku.
Hihihii. Kisah ku akan kumulai. Teretterettert. Dulu aku memulai jenjang pendidikan di sebuah TK swasta yang bernama TK HKBP TIRANUS, kangen aku sama TK ku dank. Aku pernah jadi ketua kelas waktu aku TK, dari TK juga sudah diketahui bahwa aku nggak punya bakat gambar sama sekali, dan terbukti sampai sekarang aku gak pandai menggambar seperti teman-teman yang lain. Namun satu yang kubanggakan aku lumayan bisa lah berhitung, LUMAYAN ya bukan PANDAI, gak mau sombong hahahaha. Kehidupan di TK sungguh menyenangkan ke sekolah bawa makanan, sampai di sekolah belajar mewarnai, berhitung, bahasa inggris, bernyanyi, pokoknya riang gembira lah. Jadi pengen ke masa-masa TK ku dulu. Hihi. Pernah kuingat waktu TK dulu, aku ikut lomba mencari telur dalam rangka paskah, PUJI TUHAN aku menang, dan menutup tahun terakhir di TK ku dengan siaran di Indosiar dalam acara KATA SIKECIL, wahwah ternyata waktu kecil dulu akau jadi artis. Heehhe. Setelah menyeleaikan jenjang pendidikan dari TK aku melanjutkan ke SD, aku SD di SDN 03 PAGI DUREN SAWIT, disana aku punya sahabat yang namanya Dev, Prasetyo Wibowo, dan Yohana, hahha, ntah apa kabar mereka sekarang, dan apakah mereka masi ingat sama aku ya?
Masi ingat tuh jajan anak SD seminggu dikasih Rp.1000,- hahhaa. Hari-hari bawa nasi ke sekolah kadang lauknya indomie dan kadang bawa ikan. Hihihi. Namanya juga anak SD pengennya bawaannya maen mulu, pernah waktu istirahat aku sama temenku namanya si Joniyos pergi keluar beli permen magick ”kata penjualnya” terus akupun beli permennya dan ternyata wah, permennya bisa lengket diplastiknya. Namanya juga anak sd jadi singgah disana, eh ternyata bel udah bunyi, kami belum masuk juga kekelas, kami pun masuk kelas terlambat lalu membuat alasan dari TOILET, ternyata guruku tadi memperhatikann kami, karena merasa dibohong kami diSTRAP di depan kelas, huhuhu. Sepulang sekolahnya ada tukang sewain Game Boy, harganya 200 rupiah per 3 kali mati, waktu itu tenar-tenarnya Game SUPER MARIO BROSS, duit jajan ku buat seminggu habis buat main gituan,..
Ntar sambung lagi akh, lagi digangguin temen jadi gak konsen..

Kamis, 08 April 2010

Osmoregulasi Ikan

OSMOREGULASI


Yang dimaksud dengan osmoregulasi adalah proses pengatur konsentarsi cairan dan menyeimbangkan pemasukan serta pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau organisme hidup. Sedangkan pengertian Osmoregulasi bagi ikan adalah
Pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh yang layak bagi kehidupan ikan, sehingga proses-proses fisiologis tubuhnya berfungsi normal (Homeostatis).

OSEMOREGULASI PADA IKAN AIR TAWAR

Ikan-ikan yang hidup di air tawar mempunyai cairan tubuh yang bersifat hiperosmotik terhadap lingkungan, sehingga air cenderung masuk ketubuhnya secara difusi melalui permukaan tubuh yang semipermiable. Bila hal ini tidak dikendalikan atau diimbangi, maka akan menyebabkan hilangnya garam-garam tubuh dan mengencernya cairan tubuh, sehingga cairan tubuh tidak dapat menyokong fungsi-fungsi fisiologis secara normal.

Ginjal akan memompa keluar kelebihan air tersebut sebagai air seni. Ginjal mempunyai glomeruli dalamjumlah banyak dengan diameter besar. Ini dimaksudkan untuk lebih dapat menahan garam-garam tubuh agar tidak keluar dan sekaligus memompa air seni sebanyak-banyaknya.

Ketika cairan dari badan malpighi memasuki tubuli ginjal, glukosa akan diserap kembali pada tubuli proximallis dan garam-garam diserap kembali pada tubuli distal. Dinding tubuli ginjal bersifat impermiable (kedapair, tidak dapat ditembus oleh air).
Air seniyang dikeluarkan ikan sangat encer dan mengandun g sejumlah kecil senyawa nitrogen, seperti:
• Asam urat
• Creatine
• Creatinine
• Amonia.


Meskipun air seni mengandung sedikit garam, keluarnya air yang berlimpah menyebabkan jumlah kehilangan garam yang cukup besar. Garam-garam juga hilang karena difusi dari tubuh. Kehilan an garam ini diimbangi dengan garam-garam yang terdapat pada makanan dan penyerapan aktif melalui insang.
Pada golongan ikan Teleosteiter dapat gelembung air seni(urinary bladder) untuk menampung air seni. Disini dilakukan penyerapan kembali terhadap ion-ion. Dinding gelembung air seni bersifat impermiable terhadap air.



OSMOREGULASI PADA IKAN AIR LAUT

Ikan laut hidup pada lingkungan yang hipertonik terhadap jaringan dan cairan tubuhnya, sehingga cenderung kehilangan air melalui kulit dan insang, dan kemasukan garam-garam.
Untuk mengatasi kehilangan air, ikan ‘minum’air laut sebanyak-banyaknya. Dengan demikian berarti pula kandungan garam akan meningkat dalam cairan tubuh. Padahal dehidrasi dicegah dengan proses ini dan kelebihan garam harus dihilangkan.
Karena ikan laut dipaksa oleh kondisi osmotik untuk mempertahankan air, volume air seni lebih sedikit dibandingkan dengan ikan air tawar. Tubuli ginjal mampu berfungsi sebagai penahan air. Jumlah glomeruli ikan laut cenderung lebih sedikit dan bentuknya lebih kecil dari pada ikan air tawar
Kira-kira 90% hasil buangan nitrogen yang dapat disingkirkan melalui insang, sebagian besar berupa amonia dan sejumlah kecil urea. Meskipun demikian, air seni masih mengandung sedikit senyawa tersebut. Air seni Osteichthyes mengandung:
• Creatine
• Creatinine
• Senyawa nitrogen
• Trimetilaminoksida(TMAO)


OSMOREGULASI PADA IKAN ELASMOBRANCHII

Cairan tubuh ikan Elasmobranchii umumnya mempunyai tekanan osmotik yang lebih besar daripada lingkungannya karena disebabkan kandungan urea dan TMAO yang tinggi di dalam tubuhnya (bukan karena garam-garam).
Karena cairan tubuhnya yang hiperosmotik terhadap lingkungannya, golongan ikan ini cenderung menerima air melalui difusi, terutama melalui insang. Untuk mempertahankan tekanan osmotiknya, kelebihan air ini dikeluarkan sebagai air seni.
Penyerapan kembali terhadap urea di dalam tubuli ginjal juga merupakan upaya dalam mempertahankan tekanan osmotik tubuhnya. Permukaan tubuhnya yang relatif bersifat impermiable mencegah masuknya air dari lingkungan ke dalam tubuhnya.

Hewan-hewan osmoregulators:
• Vertebrata laut:
Ikan tulang keras: Konsentrasi larutan dalam tubuh 1:3 dengan
yang ada di lingkungan →mencegah kehilangan air tubuh dan
mencegah diffusi garam dari lingkungannya →minum, osmosis
melalui insang, ekskresi garam melalui sel-sel khusus pada insang

Ikan tulang rawan: konsentrasi larutan dalam tubuh > dengan
yang ada di lingkungan →air masuk ke dalam tubuh melalui
osmosis →diekskresikan


• Ikan air tawar:
Konsentrasi larutan dalam tubuh > dengan yang ada di lingkungan
→mencegah masuknya air dan kehilangan garam →tidak minum,
kulit diliputi mucus, osmosis melalui insang, produksi urin encer,
pompa garam melalui sel-sel khusus pada insang.







DAFTAR PUSTAKA
Hegner, R.W. 1933. Invertebrate zoology. The macmillan company, New York:570pp
Juwana Sri, Rumimohtarto Kasijan. 2007. Biologi Laut. Djambatan: Jakarta

Rabu, 31 Maret 2010

Thermodinamika? Apa Iya?

Termodinamika dari Arus Samudera

Gambaran sebelumnya pengaruh angin, terutama diskusi tentang pengaruh sekunder dari angin dalam menghasilkan arus dalam air berlapis, dapat meninggalkan kesan bahwa angin adalah yang paling penting bagi perkembangan arus laut dan panas proses dapat sama sekali diabaikan. Seperti kesan akan sangat menyesatkan, namun. Dalam membahas pengaruh sekunder angin, itu berulang kali disebutkan bahwa perkembangan arus disebabkan oleh redistribusi massal dengan transportasi angin akan diperiksa antara lain dengan proses mekanis dan sebagian dengan proses termal. air permukaan yang diangkut ke lintang yang lebih tinggi akan mendingin, dan dengan demikian batas akan diatur dengan perbedaan kepadatan yang dapat dicapai. Upwelling air akan dipanaskan saat mendekati permukaan, dan pada kecepatan vertikal tertentu distribusi temperatur stasioner akan dibentuk di mana jumlah panas yang diserap dalam satuan volume persis akan menyeimbangkan jumlah yang hilang dengan konduksi eddy dan transportasi panas melalui jilid dengan gerakan vertikal. Pembentukan sebuah distribusi temperatur diam dalam air upwelling akan memeriksa efek dari upwelling terhadap distribusi horizontal kepadatan.

Contoh di atas berfungsi untuk menekankan pentingnya proses termal dalam pengembangan arus, tapi diskusi yang tepat dari termodinamika laut sama sekali tidak mungkin. Sejauh ini, prinsip-prinsip termodinamika telah menemukan aplikasi yang sangat terbatas pada masalah oseanografi, tetapi pernyataan ini tidak berarti bahwa proses-proses termal tidak penting dibandingkan dengan mekanik.

Thermal Sirkulasi. Sirkulasi istilah "panas" akan dipahami untuk berarti sirkulasi yang dikelola oleh pemanasan sistem di wilayah tertentu dan pendinginan di daerah lain. Karakter thermal di laut dan di atmosfer telah dibicarakan oleh V. Bjerknes dan kolaborator (1933). kesimpulan mereka dapat dinyatakan sebagai berikut: Jika dalam panas thermal akan diubah menjadi energi mekanik, pemanasan harus dilakukan di bawah tekanan yang lebih tinggi dan pendinginan di bawah tekanan rendah. Seperti termodinamika mesin akan menjalankan pada kecepatan konstan jika energi mekanik yang dihasilkan oleh sirkulasi termal sama dengan energi yang dikeluarkan untuk mengatasi gesek.

Dalam laut, "tekanan tinggi" umumnya dapat digantikan oleh "kedalaman lebih," dan "tekanan rendah" oleh "kedalaman kecil" Terapan ke laut teorema dapat dirumuskan sebagai berikut.: Jika dalam panas sirkulasi termal harus ditransformasikan menjadi energi mekanik, pemanas harus mengambil tempat pada kedalaman lebih besar dari pendinginan.

teorema ini ditunjukkan eksperimen oleh Sandström sebelumnya untuk perumusannya oleh Bjerknes. Dalam satu percobaan, Sandström menempatkan pemanas "" pada tingkat tertentu dan pendingin "" pada tingkat rendah dalam kapal diisi dengan air temperatur seragam. Pemanas terdiri suatu sistem tabung melalui mana air hangat bisa diedarkan, dan pendingin terdiri sistem serupa melalui yang air dingin bisa diedarkan. Ketika air hangat dan dingin beredar melalui pipa, sistem arus konveksi vertikal dikembangkan dan lanjutan sampai air atas pemanas telah dipanaskan ke suhu air hangat beredar, dan air bawah pendingin telah didinginkan ke suhu air dingin bersirkulasi. Ketika negara ini telah mencapai dan stratifikasi stabil telah didirikan, dengan temperatur penurunan ke bawah, semua gerak berhenti.

Dalam percobaan kedua, Sandström ditempatkan sistem pendingin atas sistem pemanas. Dalam hal ini negara akhir menunjukkan sirkulasi dengan gerakan menaik diatas unit pemanasan dan turun gerak bawah unit pendinginan. Jadi, sebuah sirkulasi stasioner dikembangkan, karena memanaskan berlangsung di kedalaman lebih besar dari pendinginan.

Dari ini percobaan dan dari teorema Bjerknes ', akan segera jelas bahwa dalam kondisi lautan sangat kurang menguntungkan terhadap pengembangan sirkulasi termal. Pemanasan dan pendinginan berlangsung terutama pada sama tingkat-yaitu pukul permukaan laut, mana panas diterima oleh radiasi dari matahari selama hari ketika matahari tinggi di langit, atau hilang oleh radiasi panjang-ombak menjadi ruang di malam atau ketika matahari begitu rendah bahwa kerugian lebih besar daripada gain dan panas diterima atau hilang oleh kontak dengan udara.

Karena pemanasan dan pendinginan berlangsung di permukaan, satu mungkin mengharapkan bahwa tidak ada sirkulasi termal dapat mengembangkan di laut, tapi ini tidak benar. Pertimbangkan kapal diisi dengan air. Asumsikan pemanasan bahwa pada permukaan berlangsung pada akhir kiri, dan bahwa menjelang berakhirnya kanan menurun pemanasan, menjadi nol pada tengah kapal. Beyond tengah, pendinginan berlangsung, dan mencapai maksimum pada akhir lainnya. Dalam kondisi air dipanaskan sampai kiri akan memiliki kerapatan kecil daripada air didinginkan ke kanan, dan karenanya akan menyebar ke kanan. Berkat kelangsungan sistem, air harus bangkit dekat ujung kiri kapal dan wastafel dekat kanan akhir sehingga mendirikan sirkulasi searah jarum jam yang pada permukaan arus dari daerah tempat pemanasan berlangsung ke area dimana pendinginan terjadi. Ketika kondisi stasioner telah dibentuk, suhu air untuk kiri harus agak lebih tinggi dari suhu air untuk kanan, berkat konduksi dari atas.

sirkulasi ini cukup dalam perjanjian dengan teorema Bjerknes ', karena pada permukaan air yang mengalir dari kiri ke kanan sedang didinginkan, karena mengalir dari wilayah mana pemanas mendominasi menjadi wilayah mana pendinginan berlebihan. Selama aliran kembali, yang berlangsung di beberapa kedalaman bawah permukaan, air, di sisi lain, sedang dihangatkan oleh konduksi, karena mengalir dari wilayah suhu rendah ke wilayah temperatur lebih tinggi. Demikian sirkulasi adalah seperti bahwa memanaskan berlangsung di kedalaman lebih besar dari pendinginan. sirkulasi ini, Namun, tidak bisa menjadi sangat intensif, terutama karena pemanasan dalam aliran kembali harus terjadi oleh proses lambat konduksi.

Jika sirkulasi oseanik diperiksa di detail, banyak contoh ditemukan di mana sirkulasi vertikal disebabkan oleh angin adalah sehingga mesin termal berjalan di reverse, berarti bahwa energi mekanik ditransformasikan menjadi panas, sehingga memeriksa pengembangan lebih lanjut sirkulasi angin . Ketika upwelling berlangsung, aliran permukaan akan diarahkan dari wilayah suhu rendah ke daerah suhu tinggi, dan aliran bawah permukaan akan diarahkan dari tinggi ke temperatur rendah. Mesin termal yang terlibat akan mengkonsumsi energi dan demikian menetralkan sirkulasi angin terlalu-cepat. Di Antartika sirkulasi termal akan diarahkan di permukaan dari utara ke selatan dan akan menetralkan sirkulasi angin, yang akan diarahkan dari selatan ke utara. Di sisi lain, sistem ditemukan dalam mana efek termal cenderung meningkatkan efek angin dan dalam mana peningkatan sirkulasi harus diperiksa oleh disipasi energi kinetik.

Sirkulasi termohalin. Sejauh, hanya sirkulasi termal telah dipertimbangkan, tetapi harus diingat bahwa densitas air tergantung pada kedua suhu dan salinitas, dan bahwa di lapisan permukaan salinitas itu tunduk perubahan karena penguapan, kondensasi, presipitasi, dan penambahan air segar dari sungai. Di laut terbuka perubahan kerapatan ditentukan oleh kelebihan atau defisit penguapan atas presipitasi. Ini perubahan kepadatan mungkin dalam arah sama seperti yang disebabkan oleh pemanasan dan pendinginan, atau mereka mungkin di arah berlawanan. Ketika memeriksa sirkulasi yang timbul karena faktor eksternal mempengaruhi densitas perairan permukaan, satu harus mengambil perubahan kedua suhu dan salinitas ke account, dan harus mempertimbangkan bukan termal tapi sirkulasi termohalin. teorema Bjerknes 'adalah maka lebih baik dirumuskan sebagai berikut: Jika sirkulasi termohalin akan memproduksi energi, ekspansi harus mengambil tempat pada kedalaman lebih besar dari kontraksi. Dalam bentuk ini, teorema dapat digunakan untuk menentukan apakah dalam apapun energi sirkulasi diberikan diperoleh atau hilang karena perubahan termohalin.

Jika sirkulasi termal dan haline dipisahkan, ditemukan bahwa dalam beberapa kasus mereka bekerja bersama dan bahwa dalam lain mereka menetralkan saling. Pemanasan terbesar berlangsung di wilayah ekuator, mana, karena presipitasi kelebihan, densitas juga menurun oleh pengurangan salinitas tersebut. Dalam lintang dari anticyclones subtropis pemanasan kurang, dan, selain, kepadatan air meningkat oleh penguapan kelebihan. Antara Equator dan lintang dari anticyclones subtropis, kondisi karenanya menguntungkan bagi pengembangan sirkulasi termohalin kuat. Utara dan selatan ini lintang sirkulasi haline akan, bagaimanapun, menangkal termal, karena densitas menurun oleh presipitasi kelebihan tetapi meningkat pendinginan. Sebuah sirkulasi termohalin lemah mungkin diharapkan sana.

Dalam ketiadaan sistem angin, satu mungkin mengharapkan di permukaan sirkulasi termohalin lambat diarahkan dari Equator ke kutub dan diarahkan di beberapa kedalaman bawah permukaan dalam arah berlawanan. sirkulasi ini akan dimodifikasi oleh rotasi bumi dan oleh bentuk cekungan samudra, tapi tak dapat dikatakan sebagai dengan karakter sistem arus yang akan mengembangkan dalam kondisi seperti. Kemungkinan, Namun, bahwa sistem saat ada beruang kesamaan tidak dengan salah satu yang akan hasil dari seperti sirkulasi termohalin, tetapi terutama tergantung pada karakter angin berlaku dan atas sejauh yang peredaran yang dipertahankan oleh angin diperiksa oleh kondisi termal. Dengan kata lain, sistem angin cenderung membawa tentang distribusi densitas yang tidak konsisten dengan pengaruh pemanasan dan pendinginan, dan distribusi aktual pendekatan keseimbangan antara dua faktor. Kedua faktor-angin dan proses pemanasan dan pendinginan-adalah variabel, Namun, dalam waktu dan ruang, untuk yang alasan distribusi stasioner densitas dengan arus stasioner terlampir tidak ada. Hanya ketika kondisi rata-rata selama waktu panjang dan area besar dianggap dapat mereka dianggap sebagai stasioner.

Vertikal Konveksi Arus. Sirkulasi termohalin adalah penting langsung kecil untuk arus horizontal, tetapi bertanggung jawab terutama untuk pengembangan arus konveksi vertikal. Dimanapun densitas air permukaan meningkat begitu banyak oleh pendinginan atau penguapan bahwa menjadi lebih besar dari kerapatan strata mendasari, air permukaan harus tenggelam dan harus diganti oleh air dari beberapa kedalaman bawah permukaan. Arus vertikal yang timbul dalam cara ini disebut arus konveksi vertikal. Mereka teratur dalam karakter dan should not be called “currents” if this term is defined as motion of a considerable body of water in a definite direction.

Laut, Sumber Energi Raksasa Terbaharui
Untuk memperoleh daya listrik guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, beberapa pembangkit dengan memakai tenaga alam yang ramah lingkungan seharusnya dimanfaatkan dengan mengambil potensi alam yang justru ada di sekeliling kita misalnya sinar matahari, air, angin serta sumber energi nir-konvensional yang terbaharui dari lautan.

Energi Laut merupakan altrnatif energi 'terbaharui' termasuk sumberdaya non-hayati yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Selain menjadi sumber pangan, laut juga mengandung beraneka sumberdaya energi yang keberadaannya semakin signifikan manakala energi yang bersumber dari bahan bakar fosil semakin menipis. Laut sebagai ‘Last Frontier’ di bumi memang menjadi tujuan akhir menjawab tantangan kekurangan energi. Diperkirakan potensi laut mampu memenuhi empat kali kebutuhan listrik dunia sehingga tidak mengherankan berbagai negara maju telah berlomba memanfaatkan energi ini. Secara umum, lautan dapat memproduksi dua tipe energi yaitu energi dari kandungan air laut, perbedaan suhu dan salinitas (termodinamika) serta energi gelombang dan arus (mekanik/kinetika). Indonesia yang terletak di garis katulistiwa, hampir sepanjang tahun mendapat sinar matahari sekaligus memiliki lautan luas serta garis lingkar pantai yang panjang. Artinya kita memiliki sumber energi potensial yang sangat besar dan tidak ada habisnya. Dengan kondisi alam ini sudah semestinya kita tidak perlu khawatir akan kehabisan sumber energi. Persoalannya tinggal bagaimana kualitas manusia (SDM) didalamnya memanfaatkan dan mengelola potensi ini.

Lautan meliputi bumi lebih dari 70 persen, menjadikannnya wadah terbesar penyerap panas. Panas matahari menghangatkan bagian permukaan laut dibanding bagian dalamnya, dan perbedaan suhu inilah yang dapat dikonversi untuk menghasilkan energi. Tanda bahwa air laut mengandung arus listrik adalah adanya unsur Natrium Chlorida (NaCl) yang tinggi dan oleh H2O diuraikan menjadi Na+ dan Cl-. Dengan adanya partikel muatan bebas itu, maka ada arus listrik. Energi yang dihasilkan dari air laut memiliki keunggulan seperti ramah lingkungan dan tidak membutuhkan banyak dana. Dari beberapa percobaan sederhana, dua liter air laut sebagai elektrolit dialirkan ke rangkaian Grafit (anoda) dan Seng atau Zn (katoda) mampu menghasilkan tegangan 1,6 volt. Percobaan lanjutan dengan menggunakan air laut sebanyak 400 liter, dan accu (aki) bekas 12 volt mampu menghasilkan 9,2-11,8 volt.

Pada prinsipnya, air laut yang mengandung garam masuk ke dalam baterai (tabung aki), sehingga muncul reaksi yang menimbulkan tegangan. Besarnya arus dan tegangan yang dihasilkan tergantung dari kapasitas baterai atau aki. Semakin banyak aki yang digunakan dan tekanan air laut semakin besar, maka arus atau tegangan yang dihasilkan juga akan semakin tinggi. Dengan demikian, apabila percobaan dilakukan di pantai, maka energi listrik yang dihasilkan juga semakin besar. Dengan kata lain, lautan merupakan baterai laut raksasa.

Pemanfaatan energi dari lautan memberi harapan bagi kepentingan konservasi energi dan ekologi mengingat populasi manusia yang bertambah secara eksponensial. Masyarakat perlu listrik, ketersediaan udara dan air yang bersih serta tanah yang berproduktifitas. Bagaimanapun, membangun pembangkit listrik dengan bahan bakar minyak, harga jual listriknya tetap akan mahal. Berbeda bila pembangkitnya menggunakan tenaga air laut, harga jual listrik relatif akan sama atau menjadi murah dan yang jelas pasti ‘berkelanjutan’. Pihak yang dipercayakan untuk membangun dipersilakan saja pilih pulau mana yang cocok dikembangkan, karena Indonesia memiliki ribuan pulau.

Energi lewat pembangkit listik tenaga laut juga memiliki hambatan dan tantangan secara ekologi terutama ekonomi, namun justru lebih bersih dari kemungkinan pencemaran dan dampak lingkungan lainnya. Kemampuan dan perkembangan teknologi sekarang ini memungkinkan untuk diterapkan dan dimanfaatkan. Bahkan, jika dibandingkan dengan tenaga angin maupun tenaga matahari, hingga kini, kedua sistem tersebut masih memiliki peluang merusak alam. Apalagi jika pembangkit masih terkait dengan tenaga yang diambil dari nuklir maupun minyak bumi, bahan pemicu peningkatan panas bumi.

Hambatan secara ekologi akibat pembangkit listrik dari teknologi termodinamika dan mekanika laut ini dapat diatasi dengan pemilihan lokasi instalasi yang tepat disertai retype model alat instalasi. Sedangkan tantangan ekonomi hanya terletak pada mahalnya biaya pembangunan dalam skala besar, sebenarnya setelah beroperasi persoalan tinggal bagaimana mereduksi biaya dari proses ekstraksinya. Para ahli dunia memprediksikan biaya untuk pembangkit listrik laut akan menurun seiring dengan berkembangnya teknologi dan akan segera mendapatkan keuntungan pasar. Sekali dibangun, instalasi energi listrik laut akan memiliki biaya operasi dan perawatan yang rendah karena bahan baku utama yang digunakan bukan bahan bakar fosil namun air laut dan ini tersedia gratis selama bumi masih ada.

Terdapat cukup banyak selat, perairan semi-tertutup, pantai terbuka bagi gelombang dan arus cukup deras berada di daerah kita semenanjung Sulawesi Utara seperti di perairan Likupang, Bitung, Siau sampai kepulauan Sangihe dan Talaud. Perairan ini mempunyai potensi yang baik untuk pembangkit listrik tenaga laut meskipun dengan skala kecil seperti teknologi Tidal Fence atau Tidal Turbine (relatif menguntungkan secara ekonomi dan ekologi). Dapat dibayangkan keuntungan yang diperoleh, misalnya teknologi Tidal turbine pada luasan sepanjang 3 km2 saja minimum menghasilkan 30 MW, sudah cukup memenuhi kebutuhan listrik Manado yang hanya sebesar 27 MW. Teknologi Tidal Fence yang juga dapat berfungsi sebagai jembatan penghubung antar pulau, minimum menghasilkan 200 MW sudah lebih cukup memenuhi kebutuhan listrik Sulut yang hanya 133 MW. Sekarang, tinggal bagaimana sumberdaya manusia (SDM) baik di pemerintahan dan di institusi-institusi pendidikan mengembangkannya. Pemerintah daerah yang hanya mengalokasikan dana pada sesuatu yang tidak perlu atau menerima investasi yang beresiko terhadap lingkungan lebih baik menanamkan investasi jangka panjang ‘berkelanjutan’ seperti ini bagi kemakmuran masyarakat. Sejak pendidikan akademik mengenai kelautan di berbagai Universitas di Sulut diitik-beratkan pada pengetahuan hayati (biologi/perikanan), maka pengembangan teknologi non-hayati laut diharapkan mampu bertumpu pada bidang teknik terutama pedidikan profesional Politeknik. Kemampuan pengembangan teknologi ini selayaknya diperhatikan serta dijadikan tantangan guna mengantisipasi kesenjangan energi saat ini dan dimasa mendatang.

1. PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS LAUT
Tenaga merupakan suatu unsur penunjang yang sangat penting bagi pengembangan secara menyeluruh suatu bangsa. Pemanfaatan secara tepat guna akan merangsang pertumbuhan perekonomian negara. Sehingga tidak heran apabila masa sekarang ini permintaan akan pembangkit tenaga semakin meningkat di negara-negara seluruh dunia. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa, ditinjau dari segi kebutuhan tenaga, hampir dapat dipastikan semua negara di dunia benar-benar sedang mengalami “ krisis energi “ dan berbagai usaha dilakukan untuk mengantisipasi serta mencari berbagai alternatif pembangkit energi untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. Tenaga listrik memegang peranan penting dalam pengembangan ekonomi dan pembangunan suatu bangsa karena  kebutuhan tenaga listrik suatu bangsa pada umumnya akan naik, dengan laju pertumbuhan berkisar 3 – 20 % pertahun, terutama tergantung pada pertumbuhan ekonomi dan laju perkembangan industri suatu negara. Hal ini berpengaruh terhadap penyediaan energi listrik. Semakin jelas bahwa harus ada suatu gagasan baru mengenai sumber-sumber penghasil energi dan rumusan program-program pelaksanaan dengan efisiensi yang maksimal.
Penyediaan tenaga listrik bagi keperluan sektoral sampai saat ini dibangkitkan dengan bahan baker minyak. Investasi pembangkit listrik dengan bahan bakar minyak sangat mahal, sehingga hal ini membuka kesempatan bagi upaya diversifikasi, dengan pemakaian minyak pada sektoral dapat digantikan dengan pemakaian tenaga listrik yang dibangkitkan oleh energi non minyak.
Dewasa ini tenaga panas uap merupakan sumber alternatif pemakaian energi di dalam negeri. Penggunaannya terus meningkat, sedang jumlah persediaan terbatas. Oleh karena itu perlu diambil langkah-langkah penghematan minyak bumi (bahan bakar fosil) di satu pihak dan di pihak lain pengembangan-pengembangan sumber energi lainnya, seperti PLT-PL (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Laut).
 
 
            Prinsip Kerja
Pada teknologi konversi energi panas laut atau KEPL (Ocean Thermal Energy Conversion, OTEC), siklus Rankine digunakan untuk menarik arus-arus energi termal yang memiliki sekurang-kurangnya selisih suhu sebesar 20oC. Pada saat ini terdapat dua siklus daya alternatif yang dikembangkan, yaitu siklus Claude terbuka dan siklus tertutup. Siklus terbuka dengan mendidihkan air laut yang beroperasi pada tekanan rendah, menghasilkan uap air panas yang melewati turbin penggerak/generator. Siklus tertutup menggunakan panas permukaan laut untuk menguapkan fluida pengerak dengan Amonia atau Freon. Uap panas menggerakan turbin, kemudian turbin berkerja menghidupkan generator untuk menghasilkan listrik. Prosesnya, air laut yang hangat dipompa melewati tempat pengubah dimana fluida pemanas tekanan rendah diuapkan hingga menjalankan turbo-generator. Air dingin dari dalam laut dipompa melewati pengubah kedua mengubah uap menjadi cair kemudian dialiri kembali dalam sistem.
Dalam siklus Claude terbuka, air laut digunakan sebagai medium kerja maupun sebagai sumber energi. Air hangat yang berasal dari permukaan laut diuapkan dalam suatu alat penguap (flash evaporator) dan menghasilkan uap air dengan tekanan yang sangat rendah, lk 0,02 hingga 0,03 bar dan suhu kira-kira 20oC. Uap itu memutar sebuah turbin uap yang merupakan penggerak mula bagi generator yang menghasilkan energi listrik. Karena tekanan uap itu rendah sekali maka ukuran-ukuran turbin menjadi sangat besar. Setelah melewati turbin, uap yang sudah dimanfaatkan dialirkan ke sebuah kondensor yang menghasilkan air tawar. Kondensor didinginkan oleh air laut yang berasal dari lapisan bawah permukaan laut. Dengan demikian, metode dengan siklus Claude ini menghasilkan energi listrik maupun air tawar. Masalah dengan metode ini adalah bahwa ukuran-ukuran turbin menjadi sangat besar oleh karena tekanan uap yang begitu rendah. Sebagai contoh, sebuah modul sebesar 10 MW yang terdiri atas penguap, turbin dan kondensor, akan memerlukan ukuran garis tengah dan panjang 100 meter.
Pada metode kedua, yaitu dengan siklus tertutup, merupakan metode yang lebih disukai dan digunakan pada banyak proyek percobaan. Air permukaan yang hangat dipompa ke sebuah penukar panas atau evaporator, dimana energi panas dilepaskan kepada suatu medium kerja, misalnya amonia. Amonia cair itu akan berubah menjadi gas dengan tekanan kira-kira 8,7 bar dan suhu lk 21oC. Turbin berputar menggerakkkan generator listrik yang menghasilkan energi listrik. Gas amonia akan meninggalkan turbin pada tekanan kira-kira 5,1 bar dan suku lk 11oC dan kemudian di bawa ke kondensor. Pendinginan pada kondensor mengakibatkan gas amonia itu kembali menjadi bentuk benda cair. Perbedaan suhu dalam rangkaian perputaran ammonia adalah 10oC sehingga rendemen Carnot akan menjadi : ηC = T2 - T1 = 3,4 % T2. Rendemen ini merupakan efisiensi termodinamika yang baik sekali, namun di dalam praktek rendemen yang sebenarnya akan terjadi lebih rendah, yaitu sekitar 2-2,5 %. Pada rancangan-rancangan terkini suatu arus air sebesar 3-5 m3/s baik pada sisi air hangat maupun pada sisi air dingin, diperlukan untuk menghasilkan daya sebesar 1 MW pada generator. Selain amonia (NH3), juga Fron-R-22 (CHClF2) dan Propan (C3H6) memiliki titik didih yang sangat rendah, yaitu antara -30oC sampai - 50oC pada tekanan atmosfer dan + 30oC pada tekanan antara 10 dan 12,5 Kg/cm2. Gas-gas inilah yang prosfektif untuk dimanfaatkan sebagai medium kerja pada konversi energi panas laut.
 
           

Sabtu, 20 Maret 2010

Lamun ( Sea Grass)

Lamun


Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (angiospermae) yang berbiji satu (monokotil) dan mempunyai akar rimpang, daun, bunga dan buah.
Seperti halnya tanaman darat, lamun memiliki daun, akar, melakukan jaringan, bunga dan biji-bijian, dan memproduksi makanan mereka sendiri melalui fotosintesis. Tidak seperti tanaman darat, bagaimanapun, lamun tidak memiliki yang kuat, batang dan batang mendukung diperlukan untuk mengatasi gaya gravitasi di darat. Sebaliknya, daun lamun didukung oleh daya apung alami air, tetap fleksibel saat berhubungan dengan gelombang dan arus.
Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada ekosistem, ini hidup beraneka ragam biota laut seperti ikan, krustasea, moluska ( Pinna sp, Lambis sp, Strombus sp), Ekinodermata ( Holothuria sp, Synapta sp, Diadema sp, Arcbaster sp, Linckia sp) dan cacing ( Polichaeta) (Bengen, 2001).
Secara ekologis padang lamun memiliki peranan penting bagi ekosistem. Lamun merupakan sumber pakan bagi invertebrata, tempat tinggal bagi biota perairan dan melindungi mereka dari serangan predator. Lamun juga menyokong rantai makanan dan penting dalam proses siklus nutrien serta sebagai pelindung pantai dari ancaman erosi ataupun abrasi (Romimohtarto dan Juwana, 1999).
Ekosistem Padang Lamun memiliki diversitas dan densitas fauna yang tinggi dikarenakan karena gerakan daun lamun dapat merangkap larva invertebrata dan makanan tersuspensi pada kolom air. Alasan lain karena batang lamun dapat menghalangi pemangsaan fauna bentos sehingga kerapatan dan keanekaragaman fauna bentos tinggi.
Ciri-ciri ekologis padang lamun antara lain adalah :
1.Terdapat di perairan pantai yang landai, di dataran lumpur/pasir
2.Pada batas terendah daerah pasang surut dekat hutan bakau atau di dataran terumbu karang
3.Mampu hidup sampai kedalaman 30 meter, di perairan tenang dan terlindung
4.Sangat tergantung pada cahaya matahari yang masuk ke perairan
5.Mampu melakukan proses metabolisme secara optimal jika keseluruhan tubuhnya terbenam air termasuk daur genustif
6.Mampu hidup di media air asin
7. Mempunyai sistem perakaran yang berkembang baik



Manfaat Padang Lamun diantaranya adalah :
1.Sebagai sumber produsen primer
2.Sebagai sumber nutrisi
3.Sebagai tempat biota-biota yang berada disekitar ekosistem padang lamun ( tempat menempel binatang, tempat pemijahan, tempat pembesaran)
4.Sebagai Penangkap Sedimen : memperlambat gerakan air dari arus dan ombak, sedimen ditangkap dan digambungkan maka air akan menjadi jernih
5.Sebagai pendaur zat hara : penyaring zat-zat tercemar yang berbahaya bagi biota yang berada pada ekosistem lamun.
Secara ekologis padang lamun memiliki peranan penting bagi ekosistem. Lamun merupakan sumber pakan bagi invertebrata, tempat tinggal bagi biota perairan dan melindungi mereka dari serangan predator. Lamun juga menyokong rantai makanan dan penting dalam proses siklus nutrien serta sebagai pelindung pantai dari ancaman erosi ataupun abrasi (Romimohtarto dan Juwana, 1999).
Pengklasifikasian lamun adalah berdasarkan karakter tumbuh-tumbuhan. Selain itu, genus di daerah tropis memiliki morfologi yang berbeda sehingga pembedaan spesies dapat dilakukan dengan dasar gambaran morfologi dan anatomi. Lamun merupakan tumbuhan laut monokotil yang secara utuh memiliki perkembangan sistem perakaran dan rhizoma yang baik. Pada sistem klasifikasi, lamun berada pada Sub kelas Monocotyledoneae, kelas Angiospermae. Sampai sekarang baru diketahui 4 famili lamun yaitu Zosteroideae, Posidonioideae, Cymodoceoideae dan Hydrocharitaceae. Famili Hydrocharitaceae dominan merupakan lamun yang tumbuh di air tawar sedangkan 3 famili lain merupakan lamun yang tumbuh di laut
Secara lengkap klasifikasi beberapa jenis lamun yang terdapat di perairan pantai Indonesia (Phillips dan Menez,1988) adalah sebagai berikut :
Divisi : Anthophyta
Kelas : Angiospermae
Subkelas : Monocotyledonae
Ordo : Helobiae
Famili : Hydrocharitaceae
Genus : Enhalus
Species : Enhalus acoroides

Genus : Halophila
Species : Halophila decipiens
Halophila ovalis
Halophila minor
Halophila spinulosa
Genus : Thalasia
Species : Thalasia hemprichii

Famili : Cymodoceaceae
Genus : Cymodocea
Species : Cymodocea rotundata
Cymodocea serrulata

Genus : Halodule
Species : Halodule pinifolia
Halodule uninervis
Genus : Syringodium
Species : Syringodium isoetifolium
Genus : Thalassodendron
Species : Thalassodendron ciliatum

Parameter Lingkungan Hidup Lamun
1.Suhu
Suhu merupakan faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme dilautan,karenasuhu mempengaruhi aktifitas metabolisme ataupun perkembangbiakan dari organisme-organisme tersebut (Hutabarat dan Evans, 1986).
Toleransi suhu dianggap sebagai faktor enting dalam menjelaskan biogeografi lamun dan suhu yang tinggi di perairan dangkal dapat juga menentukan batas kedalaman minimum untuk beberapa spesies (Larkum et al., 1989).
Kisaran suhu optimal bagi spesies lamun untuk perkembangan adalah 28°C-30°C, sedangkan untuk fotosintesis lamun membutuhkan suhu optimum antara 25°C-35°C dan padasaat cahaya penuh. Pengruh suhu bagi lamun sangat besar, suhu mempengaruhi proses-proses fisiologi yaitu fotosintesis, laju respirasi, pertumbuhan dan reproduksi. Proses-proses fisiologi tersebut akan menurun ajam apabila suhu pereairan berada diluar kisaran tersebut (Berwick, 1983).

2.Arus
Arus merupakan gerakan mengalir suatu masa air yang dapat disebabkanoleh tiupan angin,perbedaan densitas air laut ata dapat pula disebabkan oleh gerkan periodik jangka panjang.Arus yang disebabkan oleh gerakan periodikjangka panjang ini antara lain arus yang disebabkan oleh pasang surut (pasut).Arus yang disebabkan oleh pasang surut biasanyaa banyak diamatidiperairan teluk dan pantai (Nontji,1993).

Kecepatan arus peraiaran berpengaruh pada produktifitas padang lamun.Turtle grass dapat menghasilkan hasil tetap ( standing crop) maksimal pada kecepatan arus 0.5m/det(Dahri et al., 1996). Arus tidak mempengaruhi penetrasi cahaya, kacuali jika ia mengangkat sedimen sehingga mengurangi penetrasi cahaay. Aksi menguntungkan dari arus terhaap organisme terletak pada transport bahan makanantambahna bagi porganisme dan gdalam halpengangkutan buangan(Moore, 1958). Pada daerah yang arusnya cepat,sedimen pada padang lamunterdiri dari lumpur halus dan detritus.Hal ini mennunjukkan kemampuan tumbuhan lamun untuk mengurangi pengaruh arus sehingga mengurangi transport sedimen (Berwick, 1983 dalam Mintane,1998).

3.Salinitas
Salinitas atau kadar garam yaitu jumlah berat semua garam (dalam gram) yang terlarut dalam satu liter air,biasanya dinyatakan dalam satuan °/oo(permil).Sebaran salinitas dilaut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan aliran sungai (Nontji, 1993).

Spesies padang lamun mempunyai tolerans iyang berbeda-beda,namuyn sebagaian besar memiliki kisaran yang lebar yaitu10 °/oo-40°/oo.Nilai optimum toleransi lamun terhadap salinitas air laut pada nilai 35°/oo(Dahuri et al,. 1996).
4.Kecerahan
Kecerahan perairan menunjukkan kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada kedalaman tertentu. Pada perairan alami, kecerahan sangat penting karena erat kaitannya dengan proses fotosintesis.Kebutuhasn cahaya yang tinggi bagi lamun untuk kepentingan fotosintesis terlihat dari sebarannya yang terbatas pada daerahyang masih menerima cahaya matahari (Berwick, 1983 dalam Mintane, 1998). Nilai kecerahan perairan sangat dipengaruhi oleh kandungan Lumpur,kandugan plankton, dan zat-zat terlarut lainnya (Birowo et al dalam Mintane 1998).
5. Substrat
Tumbuhan lamun membutuhkan dasar yang lunak untuk ditembus oleh akar-akar dan rimpangya guna menyokong tumbuhan ditempatnya. Lamun dapat memperoleh nutrisi baik dari air permukaan melalui helai daun-daunnya, maupun dari sedimen melalui akar dan rimpangnya (Mc Roy & Barsdate,1970).
Kesesuaian substrat yang paling utama bagi perkembangan lamun ditandai dengan kandungan sedimen yang cukup.Semakin tipis substrat (sedimen) perairan akan menyebabkan kehidupan lamun yang tidak stabil,sebaliknya semakin tebal substrat, lamun akan tumbuh subur yaitu berdaun panjang dan rimbun serta pengikatan dan penangkapan sedimen semakin tinggi.Peranan kedalaman substrat dalam stabilitas sedimen mencakup dua hal,yaitu :1)pelindung tanaman dari arus laut. 2)tempat pengolahan dan pemasok nutrien (Berwick, 1983).
Padang lamun hidup diberbagia tipe sedimen, mulai dari lumpur sampai sedimen dasar yang terdiri dari 40% endapan Lumpur dan fine mud (Dahuri et al., 1996).Semua tipesubstrat dihuni oleh tumbuhan lamun mulai dari lumpur lunak sampai batu-batuan, tetapi lamun yang paling luas dijumpai pada substrat yang lunak. Berdasarkan tipe karakteristik tipe substratnya padang lamun yang tumbuh diperairan Indonesia dapat dikelompokkan menjai 6 kategfori, yaitu :1)Lumpur,2)Lumpur pasiran,3)Pasir,4)Pasir lumpuran,5)Puing karang dan 6)Batu karang. Pengelompokkan tipe substrat ini berdasarkan ukuran pertikelnya dengan menggnakan Segitiga Milla.
6. Oksigen Terlarut (DO)
Kadar oksigen terlarut di perairan dipengaruhi oleh suhu,salinitas,dan turbulensi air.Kadar oksigen terlarut berkurang dengan semakin meningkatnya suh,ketinggian?altitude dan berkurangnya tekanan atmosfer (Effendi,2000).
Kelarutan oksigen penting artinya dalam mempengaruhi keseimbangan komunitas dan kehidupan organisme perairan. Selai itu kanungan oksigen terlarut memppengaruhi keanekaragaman organisme suatu ekosistem perairan. Menurut Effendi(200) perairan yang diperuntukkan bagi kepentingan perikanan sebaikknya memilih kaar oksigen tidak kurang ari 5mg/l. Kadar oksigen terlarut kurang dari 4 mg/l mengakibatkan efek yang kurang menguntungkna bagi hampir semua organisme akuatik.
Sumber oksigen terlarut bisa berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer sekitar 35% dan aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton (Novonty dan Olem,1994 dalam Effendi,2000)

Jumat, 19 Maret 2010

Mengenal Arus Yuk..

ARUS ???
Arus merupakan gerakan air yang menyebabkan terjadinya perpindahan massa air secara horizontal dan atau vertikal.

Gaya-gaya pembangkit arus bisa dibedakan
menjadi 2 yaitu :
1. Gaya-gaya primer (menggerakkan arus
dan menentukan kecepataannya):
Stress angin, ekspansi termal dan
konstraksi air , serta perbedaan densitas
2. Gaya-gaya sekunder (mempengaruhi
arah gerakan dan kondisi aliran arus):
gaya coriolis, gravitasi, gesekan, morfologi
pantai dan laut.
1.Stress Angin
1.1. Arus Permukaan (Surface Current)
Arus yang mengalir di permukaan laut
yang digerakkan oleh hembusan angin.
Mekanisme pembentukan:
Angin yang bertiup di atas permukaan
laut menimbulkan gaya tangensial yang arahnya searah dengan arah angin.
Gaya tangensial ini akan menyeret partikel-partikel air yang berada pada lapisan paling atas dari permukaan air.
Partikel-partikel air yang terseret gaya tangensial angin (wind sear stress) akan bergerak sesuai dengan arah angin tersebut.
Partikel-partikel air yang bergerak akan di tahan oleh partikel-partikel air yang ada di bawahnya karena daya kohesi, oleh karena itu semakin dalam kecepatan arus akan semakin berkurang.
1.2. Arus Inersia
Arus yang timbul karena adanya gaya
momentum yang berasal dari tiupan angin
sebelumnya.
Mekanisme Pembentukan
Ditinjau angin hanya bertiup dalam waktu yang
pendek dan kemudian berhenti, berhentinya
tiupan angin tersebut tidak mengakibatkan
berhentinya arus karena arus telah mempunyai
gaya momentum dari gerakan sebelumnya.
1.3. Arus Ekman
Merupakan arus hipotetik yang dibangkitkan oleh angin, dengan beberapa dasar asumsi sebagai pembangun.
Asumsi-asumsi tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Kedalaman laut tidak berhingga
2. Angin bertiup secara uniform
(kecepatan dan arahnya konstan)
3. Laut tidak mempunyai batas lateral
(lebarnya tak berhingga)
4. Laut adalah homogen(densitasnya
konstan)
5. Permukaan laut tetap datar jadi tekanan
setiap kedalaman adalah konstan
6. Koefisien viskositas eddy adalah
konstan.
Mekanisme Terbentuknya Arus Ekman
Ekman meninjau laut (hipotetik) terdiri dari
lapisan-lapisan horisontal yang tidak
berhingga jumlahnya.
Lapisan paling atas mengalami gesekan
angin(wind stress). Gesekan di lapisan paling atas akibat gesekan angin akan menggerakkan lapisan yang dibawahnya
(lapisan kedua).
Lapisan kedua mengalami gesekan (viskositas eddy) akibat gerakan lapisan atasnya. Gerakan lapisan kedua selanjutnya menggerakkan lapisan ketiga dan begitu seterusnya.
Karena pengaruh viskositas air laut yang semakin membesar, maka kecepatan arus
semakin kecil ke arah lapisan dalam.
Dalam gerakannya arus ini mengalami
pengaruh gaya coriolis yang membelokkan arus ke arah kanan di BBU dan kearah kiri di BBS.
1.4. Upwelling
Upwelling adalah istilah yang menyatakan proses penaikan massa air dari bawah ke permukaan perairan laut (Nontji 1987) atau dengan kata lain proses mengalirnya arus secara vertikal
ke arah atas.

Mekanisme Pembentukan
1. Mekanisme Transport
Mekanisme Transport Ekman umumnya untuk menjelaskan proses upwelling yang terjadi di daerah pantai ( Bowden, 1983 ; Thurman, 1991; Stewart, 2002)
Upwelling di daerah pantai terjadi karena adanya angin yang bertiup sejajar dengan garis pantai ( Stewart, 2002 )
2. Mekanisme Divergensi
Mekanisme divergensi awalnya berkaitan dengan transport Ekman, namun umumnya mekanisme divergensi untuk menjelaskan kejadian upwelling di daerah yang jauh dari pantai, misalnya Upwelling Equatorial yang terjadi di Samudera Hindia, Samudera Pasifik atau Atlantik.
Digerakkan oleh angin dari timur ke arah barat (angin Pasat )
1.5. Downwelling
Proses turunnya massa air permukaan
ke lapisan yang lebih dalam.
Mekanisme Pembentukan
Berlawanan dari proses pembentukan
upwelling
1.6. Long Shore Current (Arus Sepanjang
Pantai)
Merupakan arus yang mengalir menyusur
sepanjang pantai yang disebabkan oleh
adanya gelombang pecah yang
membentuk sudut dengan garis pantai.



Mekanisme Pembentukan
1. Gelombang yang dibangkitkan oleh
angin merambat dari perairan dalam ke
perairan dangkal (shoaling)
2. Di perairan dangkal gelombang akan
mengalami refraksi.
3. Pada kedalaman tertentu maka
gelombang akan pecah membentuk
sudut terhadap garis pantai.

4. Gelombang akan mengalami disipasi
(gesekan) energi, stress radiasi yang
dimiliki gelombang akan membentuk suatu
gerak arus sejajar pantai yang terjadi
di daerah surfzone.
Stres radiasi adalah stress yang diintegrasi
terhadap kedalaman atau gaya persatuan
lebar yang dapat didefinisikan sbg excessive
flux dari momentum karena adanya
gelombang.
Dalam gerakannya mengalami pengaruh
gaya coriolis yang akan membelokkan ke
arah kanan (BBU) atau ke arah kiri (BBS).
Keseimbangan antara gaya coriolis dan
gradien tekanan mengakibatkan terbentuknya
arus geostropik
2. Densitas
2.1. Arus Densitas Estuarin/ Arus Densitas
Merupakan arus yang timbul akibat
adanya gradien densitas secara
horisontal di daerah estuarin.
Mekanisme Terbentuknya
Adanya pertemuan debit air sungai
(densitas rendah) dengan air laut (densitas
tinggi), menyebabkan gradien tekanan
horisontal.


5. Upwelling Di Indonesia
Nontji (1987) memetakan 11 lokasi upwelling di Indonesia.
Terbukti : Perairan Selatan Jawa hingga Sumbawa, Laut Cina Selatan, Selat Makasar, Laut Banda dan Arafura.
Prediksi : Perairan Barat Aceh, Perairan Barat Kepulauan Mentawai, Laut Flores, Laut Maluku, Laut Seram, Perairan Sebelah Timur Pulau Halmahera dan Perairan Utara Irian Jaya

Asam Klorida (Hydrochloric Acid)

Larutan asam klorida atau yang biasa kita kenal dengan larutan HCl dalam air, adalah cairan kimia yang sangat korosif dan berbau menyengat. HCl termasuk bahan kimia berbahaya atau B3.

Di dalam tubuh HCl diproduksi dalam perut dan secara alami membantu menghancurkan bahan makanan yang masuk ke dalam usus.

Dalam skala industri, HCl biasanya diproduksi dengan konsentrasi 38%. Ketika dikirim ke industri pengguna, HCl dikirim dengan konsentrasi antara 32~34%. Pembatasan konsentrasi HCl ini karena tekanan uapnya yang sangat tinggi, sehingga menyebabkan kesulitan ketika penyimpanan.

Lalu apa sajakah kegunaan HCl di kehidupan kita sehari-hari? Nah, berikut ini adalah beberapa bidang yang memanfaatkan HCl, baik pada skala industri maupun skala rumah tangga.

1. Asam klorida digunakan pada industri logam untuk menghilangkan karat atau kerak besi oksida dari besi atau baja.

2. Sebagai bahan baku pembuatan vinyl klorida, yaitu monomer untuk pembuatan plastik polyvinyl chloride atau PVC.

3. HCl merupakan bahan baku pembuatan besi (III) klorida (FeCl3) dan polyalumunium chloride (PAC), yaitu bahan kimia yang digunakan sebagai bahan baku koagulan dan flokulan. Koagulan dan flokulan digunakan pada pengolahan air.

4. Asam klorida dimanfaatkan pula untuk mengatur pH (keasaman) air limbah cair industri, sebelum dibuang ke badan air penerima.

5. HCl digunakan pula dalam proses regenerasi resin penukar kation (cation exchange resin).

6. Di laboratorium, asam klorida biasa digunakan untuk titrasi penentuan kadar basa dalam sebuah larutan.

7. Asam klorida juga berguna sebagai bahan pembuatan cairan pembersih porselen.

8. HCl digunakan pada proses produksi gelatin dan bahan aditif pada makanan.

9. Pada skala industri, HCl juga digunakan dalam proses pengolahan kulit.

10. Campuran asam klorida dan asam nitrat (HNO3) atau biasa disebut dengan aqua regia, adalah campuran untuk melarutkan emas.

11. Kegunaan-kegunaan lain dari asam klorida diantaranya adalah pada proses produksi baterai, kembang api dan lampu blitz kamera.

11 kegunaan asam klorida atau HCl di atas hanyalah sebagian diantaranya. Masih banyak bidang lain yang mempergunakannya. Ide atau info lain mengenai kegunaan asam klorida, silahkan anda sampaikan melalui kolom komentar. Pada kesempatan berikutnya, ide atau komentar anda akan saya tambahkan pada daftar di atas.



Larutan asam klorida atau yang biasa kita kenal dengan larutan HCl dalam air, adalah cairan kimia yang sangat korosif dan berbau menyengat. HCl termasuk bahan kimia berbahaya atau B3.Di dalam tubuh HCl diproduksi dalam perut dan secara alami membantu mengLarutan asam klorida atau yang biasa kita kenal dengan larutan HCl dalam air, adalah cairan kimia yang sangat korosif dan berbau menyengat. HCl termasuk bahan kimia berbahaya atau B3.

Mengenal Lakmus


Ada dua jenis kertas lakmus yang kita kenal, yaitu kertas lakmus merah dan kertas lakmus biru. Beberapa identikasi yang menandakan jika suatu larutan bersifat asam atau basa, yaitu

* Jika kertas lakmus merah dicelupkan ke dalam larutan dan tidak mengalami perubahan warna, maka larutan tersebut bersifat asam.
* Jika kertas lakmus merah dicelupkan ke dalam suatu larutan dan mengalami perubahan warna, yaitu berwarna biru, maka larutan tersebut berifat basa.
* Jika kertas lakmus biru dicelupkan ke dalam larutan dan tidak mengalami perubahan warna, maka larutan tersebut bersifat basa.
* Jika kertas lakmus biru dicelupkan ke dalam suatu larutan dan mengalami perubahan warna, yaitu berwarna merah, maka larutan tersebut berifat asam.
* Jika kertas lakmus merah ataupun biru dicelupkan pada larutan netral, maka kartas lakmus tidak akan mengalami perubahan warna, tapi tidak bersifat asam ataupun basa.


Paramita


Kertas lakmus, terdapat dua jenis kertas lakmus, yaitu kertas lakmus merah dan kertas
lakmus biru. Penggunaan kertas lakmus hanya sekali pakai.Nilai pH yang terukur hanya
bersifat pendekatan, jika suatu senyawa merubah warna kertas lakmus merah menjadi
biru, maka dia bersifat basa, sedangkan jika suatu senyawa merubah warna kertas
lakmus biru menjadi merah, maka ia bersifat asam. Pengukuran hanya bersifat
kualitatif, hasil yang diperoleh relatif tidak begitu akurat. Kertas lakmus dengan
kombinasi beberapa indikator ada yang dapat digunakan yakni dengan pencocokan
skala, kertas lakmus jenis ini mengkombinasikan 4 indikator yang berbeda warna.
Kombinasi warna yang berbeda diberi skala 1-14 sesuai dengan pH sistem yang diukur.